Selasa, 09 September 2014

apa kemiskinan itu? apa sesuatu yang mendarah daging? apa bagian dari satu generasi ke generasi selanjutnya? saya rasa tidak. semua saudara ibug termasuk golongan orang orang mampu hanya nasib ibug saja yang mungkin memang kurang beruntung. karna ketidak beruntungan itulah kami harus menumpang dirumah tua nenek, harus makan dari tanaman di kebun belakang, harus kerja keras untuk mencapai sesuatu. tapi ya sudahlah tak perlu kita menyalahkan nasib orang tua kita karna bagaimanapun juga dari merekalah kita banyak belajar, belajar mengenal apa itu kemiskinan, belajar bagaimana cara bersabar dan bersyukur, belajar mejadi  sosok yang kuat dan tegar.
berbicara tentang kata tegar. terkadang kita berfikir. saat sesuatu yang dahsyat itu akan terjadi apa kita masih bisa berdiri tegap terus melangkah menggenggam erat kata TEGAR. apa kita mampu melewati satu persatu cobaan yan menghadang? apa batin kita akan sekuat baja?  saat kelelahan itu melanda, mencapai titik kelelahan dari apa yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya, apa kita masih akan punya harapan untuk tetap terus melanjutkan  perjalanan?
semua orang terlalu mudah mengatakan sesuatu tentang apa yang kita hadapai, memberi masukan dengan ucapan ucapan yang terlalu enteng. apa semudah itu mereka menghadapi perjalanan dalam hidupnya? mereka hanya terlalu meyepelekan sesuatu tentang apa yang kita hadapi.

Minggu, 07 September 2014

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقاً يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْماً سَهَّلَ اللهُ بِهِ طَرِيْقاً إِلَى الْجَنَّةِ

Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga
satu cita-cita saya yang saya bangun dari sd akhirnya terwujud. keinginan anak tukang kuli yang ingin sekolah tinggi kini kesaimpaian. sekalipun dalam perjalanan nanti saya tidak tau akan kemana dan bagaimana saya akan mengahadapi lika liku perjalanan jauh  itu. "selamat bergabung untuk menjadi seorang guru" tes air mata saya tidak bisa ditahan siang ini. iyahh saya keterima di universitas bogor.  semoga ini langkah awal kesuksesan saya Tuhan.campur aduk rasanya saat menerima almamater itu, saat mendengar ucapan selamat dari keluarga dan saat mendengar suara ibug di telfon menangis karna rasa syukurnya mengeluap. hehe terharu memang sangat terharu. :(
seperti mimpi saat satu tahun lamanya saya menunggu dan saya akan mullai merasakan bagaimana mengenyam bangku kulyah itu, saya akan bersungguh sungguh mewujudkan mimpi itu agar tak ada lagi hinaan dan juga cercaan, akan saya persembahkan toga itu untuk kalian. seperti janji saya dari kecil semua itu untukmu ibug, untuk wanita yang rela tanganya lebam bekerja di sawah demi sekolah saya, untuk wanita yang relakan tangannya kasar karna terlalu sering mencabuti singkong tiap hari itu demi membayar SPP saya, dan untuk wanita yang rela mengayuh sepeda tuanya demi untuk membelikan baju saya. iya saya janji akan mengharumkan nama wanita itu
saya melihat kembali barang barang dari ibug mulai dari tas baju dan juga sepatu. tahun lalu yang ibug beli buat saya,  katanya "untuk kuliyahmu", kini semua itu masih terlihat bagus sekalipun bawah sepatunya lobang, dan tasnya sobek,.. "duhh ibug ini keseringan aku pakai bolak balik bogor nganjuk"

Sabtu, 06 September 2014

Segala sesuatu mempunyai nyawa, jika roh adalah nyawa dari jasad, maka ikhlas merupakan nyawa dari amal. Betapapun berharganya sebuah jasad seseorang tidak akan ada harganya jika tanpa nyawa. Sebagaimana berapapun banyaknya suatu amal seseorang, jika tidak disertai dengan ikhlas, maka ibarat buih di lautan, tidak ada manfaatnya.
memang benar untuk mencoba menjadi pribadi yang ikhlas itu sangat sulit tapi semua itu cuma perlu sedikit kita paksa. memaksa hati itu tidak mudah kawan. sekalipun saya sering mencobanya.
 kali ini saya mencoba memaksa untuk mengambil sebuah jurusan yang sangat saya benci. sekalipun peluang jurusan itu sangat besar.. keterpaksaan itu berawal dengan pertentengan dari semua pihak yang melarang sayaa ambil jurusan EKONOMI. mereka bilang "sudah banyak sarjana ekonomi yang nganggur", "berfikir itu jangan mononton tapi berfikirlah lima tahun kedepan", "setelah menikah kamu itu tidak akan punya keterampilan" and teteg bengek lainya... saya hanya diam dan pura-pura mendengarkan. bagaimana tidak ini telinga sudah terlalu panas mendengarkan semua itu. setiap kali ada pertemuan selalu itu yang dibahas
hari ini saya mencoba mendaftar di salah satu universitas (sensor) di daerah bogor. saya pikir awalnya sekolahan ini lebih bagus daripada universitas yang saya masukin sebelumnya. karna universitas yang saya masukin sebelumnya saya mendapat hinaan tentang kualitas dan juga bangunanya, tentang peminat dan juga bukti mahasiswa kelulusanya. pikiran saya sebelumnya disini bakal WOW tertanya tidak seperti yang saya bayangkan. sekolah ini terletak dibawah tol, dekat pasar, dan bangunan yang di pakai pun bangunan anak smp smk, tidag banyak juga peminatnya di kampus ini bahkan lebih sedikit dari universitas yang saya masuki sebelumnya
tapi ya sudahlah sebenarnya itu bukan permasalahan. disini di perlukan keterampilan untuk jadi sarjana sukses bukan  diliat dari segi bangunan, ataupun peminatnya.
saya balik ke topik awal, saya sudah benar-benar memantapkan hati untuk mengambil jurusan yang mereka paksa itu setiap hari saya mencoba mempelajarinya tapi ternyata Allah memang adil, Allah tau sampai dimana batas kemampuan hambanya jurusan itu di tutup tahun ini, dan saya pun akhirnya kembali  sama prodi awal. "yes" pikir saya, memang sudah jalanya untuk menjadi wanita karir.

Jumat, 05 September 2014

"lungoho songko deso perlu ngudi kamulyan, krono limang perkoro den temu ing palungan
1. ilingo susah, 2 riskine tambah, kaping telu tambah ilmu nyebabake bungah, kaping 4 bisa bagus ing tata krama, kaping 5 merkoleh konco kang muly-mulyo
najan ono lelungan ngeroso ino ngumbaro, lan congkong oro oro lan ngelakoni sengsoro"
Pergilah dari rumahmu untuk mencari keutamaan, dalam kepergianmu ada 5 [lima] faedah,yaitu menghilangkan kesusahan,mencari bekal hidup,ilmu, tatakrama dan teman sejati, meskipun dalam bepergianpun terdapat hina dan terlunta-lunta,menembus belantara dan menerjang kepayahan-kepayahan
saya rasanya pengen selalu menangis setiap membaca kitab alala ini. duhh Tuhan
memang di rumah dan diperantauan itu sangat berbeda,di daerah sendiri  hati akan merasa lebih tenang dan nyaman, sedangkan di luar rumah [dalam perantauan] hati kurang tenang dan perasaanpun tidak nyaman,juga perasaan-perasaan tidak enak lainnya, namun didalam kekurang tenangan,ketidak nyamanan dan perasaan tidak enak inilah saya percaya bahwa letak penempaan jiwa ini akan menjadi jiwa yang siap menghadapi cobaan dan rintangan, jiwa yang siap menyongsong hari depan tanpa menggantungkan kepada orang lain,dan kenyataanpun saya sudah membuktikan bahwa kebanyakan orang rantau lebih tekun dan lebih semangat dalam berusaha,baik usaha dalam mencari harta atau usaha mencari ilmu dari pada orang yang berada di daerahnya sendiri, maka sebab itulah saya tidak perfikir panjang untuk merantau, hijrah meninggalkan kampung halaman untuk mencari keutamaan dalam hidup ini,merantau untuk mencari ilmu atau apapun yang bermanfaat, karena Baginda Nabi kita juga hijrah meninggalkan kampung halamannya di Makkah menuju Madinah, dan di Madinahlah beliau sukses mengembangkan Islam keseluruh dunia, sekalipun banyak rintangan yang beliau hadapi saat itu,

tekad

saya bingung sama diri saya, dua hari belakangan ini pikiran terasa kacau, rindu mengeluap ingin bertemu ibu d kampung, ingin duduk di teras depan berbagi cerita kembali, rasanya ingin pulang dan tag ingin disini. ahh tapi itu tidak mungkin saya lakukan. mana mungkin saya pulang dengan tangan hampa?
 saya  ingat bahkan sangat ingat bagaimana mereka melecehkan keluarga kami, memandang sebelah mata karna kemiskinan itu. sebelum keputusan sekolah disini saya ambil, saya sempat mendaftar di salah satu perguruan tinggi islam di kampung saya selang beberapa hari ujian. ada salah seorang yang mengatakan kepada kami "bapak dan ibumu itu orang tidak punya kalau kamu disini mereka tidak akan bisa membantu. mending kamu balik kejakarta biar di bantu kak toni sekolahmu itu"
menurut pembaca apa yang bisa pembaca rasakan? saat kalian berhadapan dengan situasi seperti itu? saat  sebuah nasihat terasa tampaaran keras yang menyakitkan. bukan itu saja beberapa orang juga sempat mengatakan kepada saya "kalalu kamu disini mau jadi apa? selang beberapa tahun kami yakin kamu akan menikah duluan dan putus kuliyah(hamil diluar nikah)"  astaghfirullah apa saya seorang muslim sehina itu sehingga mereka berhak berbicara semacam ini? saya hanya diam berenung panjang, saya tidak mungkin di kampung terus-terusan melihat pribadi saya dan kedua orang tua saya dihina.dan seingat saya dalam sebuah kitab alala di jelaskan bahwa ingin mencari kemulyaan kita harus pergi dari desa jangan terus terusan berdiam berkumpul dengan orang" pengadu domba dan dengki. esoknya saya segera membeli tiket dan kembali ke kota ini. tapi alasan saya kembali bukan untuk disekolahkan. INGAT bukan untuk di sekolahan !! saya akan berusaha sekolah dengan biaya sendiri. saya tidak ingin semakin di rendahkan sama mereka. semua terasa mustahil memang tapi percayalah tuhan tag kan pernah meninggalkan kita. saya akan istikhamah dan juga tirakat. yah hanya itu modal saya saat ini.